Rindu dikala Senja
Oleh : Istiqomah Steviani
Pagi ini, tepatnya ketika adzan subuh berkumandang terdengar dari
masjid belakang pondok bambuku dan langit masih berselimut kabut. Lampu jalan
masih bercengkerama dengan kicauan burung. Angin seakan mengajakku untuk
beranjak dari tempat tidurku. Aku segera bergegas untuk menemuimu di kota
Semarang. Kota semarang yang dijuluki kota Atlas adalah Provinsi Jawa Tengah. Aku
berangkat dari kota Magelang dan kamu berangkat dari kota Kumai menuju ke kota Atlas. Bertepatan dengan
hari libur, aku berniat menginap di tempat saudara, dan kamu menginap di tempat
kakekmu yang rumahnya tak terlalu jauh dari tempat rencana liburan. Pagi buta
ini aku sangat bersemangat untuk menemuimu pertama kali setelah bertahun-tahun
tak jumpa. Kita hanya bisa berkomunikasi lewat pesan singkat atau sesekali
lewat telepon dan kadang harus lewat jejaring sosial dan kini saatnya aku dan
kamu berjumpa, seakan bunga-bunga ikut bertebaran di udara.
Hari ini aku menjemputmu di bandara Ahmad Yani Semarang yang
letaknya cukup jauh dari rumah dan menikmati saat-saat penantianmu di sana,
agar terlihat seperti drama sinetron. Dengan berpanas-panas aku menunggu di
tempat yang cukup asing. Aku menoleh ke kanan kiri menunggu tujuh jam lamanya
dan masih tetap diam melamun duduk sendiri. Masih sendiri bersama bayanganmu
yang enggan tuk menghampiri. Rasanya tubuhku sudah basah oleh keringat. Kegelisahan muncul ketika kamu tak kunjung
datang menemuiku. Kekhawatiran pun sempat aku rasakan, apa yang terjadi?
jadikah kamu menepati janjimu itu, ataukah ini hanya mimpi terlalu berharap kau
tuk datang. Aku sempat putus asa, ketika kamu tak kunjung datang. Namun, hati kecilku
berkata bahwa kamu pasti datang untuk menemuiku. Tepat pukul 15.30 WIB, seorang
lelaki dengan kemeja garis biru mendekatiku. Ku tak kuasa membendung air mataku
yang sudah dari tadi ingin menetes. Aku terharu dan bahagia akhirnya kamu datang
untuk menepati janji yang kamu ucapkan hampir satu setengah tahun yang lalu.
“Assalamu’alaikum, maaf aku terlambat” adalah kata yang
pertama kali terdengar dari arah sampingku, berasal dari suara yang sepertinya
tak asing bagiku.
Ya Tuhan suara ini, aku menjawab salam darinya.
“Wa’alaikumsalam” hanya itu yang aku ucapkan dan aku hanya
bisa diam, kemudian hening.
Kamu memecah keheninganku dengan menanyakan kenapa aku hanya diam.
Entah mengapa bibirku kelu tak dapat bicara. Bukan karena aku marah atau pun
kecewa ketika kamu datang terlambat. Tapi karena perasaanku menjadi tak karuan
karena bisa berjumpa denganmu untuk yang pertama kalinya.
“Sudah lama menungguku?” tanyamu kembali disertai senyum yang mampu
membuatku kembali bersemangat.
“Iya, tapi lamanya aku berada disini tak sebanding dengan lamanya
aku menunggumu bertahun-tahun” jawabku dengan nada lirih.
Setelah lama menunggu, kita berjalan menelusuri kota Atlas menikmati
suasana indahnya keramaian kota, jajanan khas yang berjejer di trotoar menjadi
saksi diantara kita. Kita menghabiskan waktu di kota Atlas selama lima hari
empat malam. Sampai tak terasa hari berubah menjadi semakin petang, bulan
bintang pun menyaksikan betapa bahagianya aku dan kamu di bawah langit yang
sama. Kita duduk berdua sambil menikmati dinginnya udara dan suasana yang
romantis, ditambah dengan rintikan hujan di daerah kota Atlas saat ini. Ingin
rasanya aku bersamamu lebih lama. Malam semakin larut dan akhirnya kita
putuskan untuk kembali ke rumah penginapan masing-masing. Malam ini aku tidak
bisa tidur. Akhirnya aku berbincang-bincang denganmu di telepon.
“Assalamu’alaikum” salammu saat di telepon
“Wa’alaikumsalam” jawabku
singkat
“Besok aku akan mengajakmu jalan-jalan di kota Atlas ini setelah
sarapan pagi, apakah kamu mau ?” tanyamu penuh harapan
“Baiklah, besok aku akan menunggumu di taman biasa sebelah rumah
saudaraku” jawabku senang
*******
Keesokan harinya, suasana pagi di kota Atlas begitu cerah, mentari
bersinar dengan riang, seriang hatiku yang sudah tidak sabar menikmati liburan
bersama orang yang selalu aku nanti selama ini. Aku segera bergegas menemuimu
di taman yang sejak malam tadi sudah dijanjikan. Saat aku berjalan ke taman ternyata
kamu sudah ada disana untuk menungguku. Aku bersamamu sepakat untuk jalan-jalan
ke Lawang sewu, Klenteng Sam Poo Kong dan Little Netherland. Tak
bisa kuungkapkan dengan kata-kata betapa bahagianya aku saat liburan bersamamu.
Aku salut dengan pengorbanan yang kamu lakukan
untuk menemuiku pada saat ini.
Pada malam terakhir, saat ini hujan mengguyur daerah kota Atlas,
udara terasa begitu dingin. Kamu menyuruhku untuk segera tidur, karena besok
pagi kita akan kembali ke kota masing-masing. Hari terakhir kita berlibur, aku
mengantarkanmu kembali ke bandara. Kamu berjanji padaku bahwa akan menemuiku di kala
senja sama seperti saat pertama kita bertemu. Aku hanya mengangguk diam tanpa
kata dan merelakan saat kepergianmu. Andai kamu tahu ku tak ingin kamu pergi
meninggalkan ku sendiri bersama bayanganmu. Dan aku pun kembali ke kota asalku
di mana aku dilahirkan.
*******
Setibanya di kota masing-masing, kamu meneleponku, memberitahu
bahwa kamu sudah tiba di Kumai. Aku baru sadar kita berada di kota berbeda.
Tapi kini, hanya kenangan yang hidup di jiwaku sungguh bukanlah kenangan yang
pernah dimiliki anak manusia, siapa pun. Tidak pula seperti Habibie yang begitu
cinta pada Ainun. Aku diam seribu kata, menerima semua kenyataan bahwa kamu tak
lagi di sini. Bumi seakan menelanmu membiarkan ku sendiri tanpamu. Tak ada lagi
canda atau pun tawa.
Tepatnya delapan bulan, kita berpisah antara jarak dan waktu, yah
jarak Jawa- Kalimantan. Kelihatan di peta memang sangat dekat, tapi orang lain
tak selalu mengerti arti ketulusan cinta yang sesungguhnya mengapa sampai detik
ini aku masih bertahan.
Kau pasti tahu, ada suka dan duka, ada siang dan malam.
Bertahun-tahun kita bersama, dan satu tahun sekali kita berjumpa di keramaian
kota ini, saling memadu kasih, tanpa ada seorang pun yang mengusik. Kita
tertawa, bahagia, tapi kini perpisahanlah yang membuat hati lara.
Aku duduk sendiri sambil ditemani burung-burung bernyanyi dan
daun-daun menari seakan menghiburku di kala sore ini. Entah kenapa sore ini
menjadi kelabu. Tadinya aku membayangkan hal yang indah-indah bersamamu
kemarin, aku tadi melihat pelangi tapi sekarang awan pun berubah kelabu siap
mengucurkan hujan derasnya. Tak beda dengan pelupuk mataku yang sudah tak mampu
lagi menahan bendungan air mata yang sudah sedari tadi kutahan karena aku
sedang berusaha tegar setelah membaca pesan singkatmu.
From +682785726272829
“Assalamu’alaikum, selamat sore kamu yang masih jadi pemilik
hatiku. Sabar yah, memang kita berada dalam jarak yang jauh. Tapi jarak tak
menghalangi cinta kita. Aku harap kamu baik-baik disana, jangan lupa berdoa
untuk kita.
Aku tenggelam dalam indahnya rindu. Benakku merenung, rasa-rasanya
tak ada habisnya jika kamu menghitung seberapa banyak aku merindumu.
“Aku sudah lupa bagaimana rasanya lelah menunggu. Tapi aku selalu
ingat tentang kamu yang berjanji akan
datang kala senja yang selalu setia kutunggu.” kadang, kalimat sejenis itu
terurai dari mulutku yang sepi.
Badai rindu tak lagi cukup untuk mewakili isi perasaanku. Seuntai
nama yang hanya ku sebut dalam setiap doaku. Bayang wajah lelaki yang hanya aku
yang sanggup menyimpan dengan rapi di dalam bingkai hatiku. Lengkung senyum
yang hanya aku yang setia memeliharanya. Segenggam janji yang hanya aku yang mampu
menggenggamnya dalam diam.
“Adakah rindu yang lebih menyakitkan dari rindu yang kurasakan?”
“Rindu! Ya, rindu! Betapa kejamnya rindu yang tak pernah mengerti
apa yang aku rasakan”
Aku tahu tak semua orang merasakan seperti ini, seperti kamu dan
aku. Tidak semua orang merasakan kita yang berkomunikasi melalui mata batin,
saling bercengkerama dengan kerinduan. Perjalanan memang tak pernah bisa
menjadi semulus yang diharapkan. Terjal, berbatu, menyakitkan, menyesakkan,
bahkan hampir putus asa. Dengan semua perasaan yang bercampur dan keyakinan
akan semua mimpi serta tujuan yang kita miliki, aku pegang teguh semua komitmen.
Hari itu pasti akan datang, saat kita tak akan terpisahkan dan layak untuk
dipersatukan.