Kamis, 30 April 2015

CERPEN : RINDU DI KALA SENJA



Rindu dikala Senja
Oleh : Istiqomah Steviani

Pagi ini, tepatnya ketika adzan subuh berkumandang terdengar dari masjid belakang pondok bambuku dan langit masih berselimut kabut. Lampu jalan masih bercengkerama dengan kicauan burung. Angin seakan mengajakku untuk beranjak dari tempat tidurku. Aku segera bergegas untuk menemuimu di kota Semarang. Kota semarang yang dijuluki kota Atlas adalah Provinsi Jawa Tengah. Aku berangkat dari kota Magelang dan kamu berangkat dari kota  Kumai menuju ke kota Atlas. Bertepatan dengan hari libur, aku berniat menginap di tempat saudara, dan kamu menginap di tempat kakekmu yang rumahnya tak terlalu jauh dari tempat rencana liburan. Pagi buta ini aku sangat bersemangat untuk menemuimu pertama kali setelah bertahun-tahun tak jumpa. Kita hanya bisa berkomunikasi lewat pesan singkat atau sesekali lewat telepon dan kadang harus lewat jejaring sosial dan kini saatnya aku dan kamu berjumpa, seakan bunga-bunga ikut bertebaran di udara.
Hari ini aku menjemputmu di bandara Ahmad Yani Semarang yang letaknya cukup jauh dari rumah dan menikmati saat-saat penantianmu di sana, agar terlihat seperti drama sinetron. Dengan berpanas-panas aku menunggu di tempat yang cukup asing. Aku menoleh ke kanan kiri menunggu tujuh jam lamanya dan masih tetap diam melamun duduk sendiri. Masih sendiri bersama bayanganmu yang enggan tuk menghampiri. Rasanya tubuhku sudah basah oleh keringat.  Kegelisahan muncul ketika kamu tak kunjung datang menemuiku. Kekhawatiran pun sempat aku rasakan, apa yang terjadi? jadikah kamu menepati janjimu itu, ataukah ini hanya mimpi terlalu berharap kau tuk datang. Aku sempat putus asa, ketika kamu tak kunjung datang. Namun, hati kecilku berkata bahwa kamu pasti datang untuk menemuiku. Tepat pukul 15.30 WIB, seorang lelaki dengan kemeja garis biru mendekatiku. Ku tak kuasa membendung air mataku yang sudah dari tadi ingin menetes. Aku terharu dan bahagia akhirnya kamu datang untuk menepati janji yang kamu ucapkan hampir satu setengah tahun yang lalu.
Assalamu’alaikum, maaf aku terlambat” adalah kata yang pertama kali terdengar dari arah sampingku, berasal dari suara yang sepertinya tak asing bagiku.
Ya Tuhan suara ini, aku menjawab salam darinya.
Wa’alaikumsalam” hanya itu yang aku ucapkan dan aku hanya bisa diam, kemudian hening.
Kamu memecah keheninganku dengan menanyakan kenapa aku hanya diam. Entah mengapa bibirku kelu tak dapat bicara. Bukan karena aku marah atau pun kecewa ketika kamu datang terlambat. Tapi karena perasaanku menjadi tak karuan karena bisa berjumpa denganmu untuk yang pertama kalinya.
“Sudah lama menungguku?” tanyamu kembali disertai senyum yang mampu membuatku kembali bersemangat.
“Iya, tapi lamanya aku berada disini tak sebanding dengan lamanya aku menunggumu bertahun-tahun” jawabku dengan nada lirih.
Setelah lama menunggu, kita berjalan menelusuri kota Atlas menikmati suasana indahnya keramaian kota, jajanan khas yang berjejer di trotoar menjadi saksi diantara kita. Kita menghabiskan waktu di kota Atlas selama lima hari empat malam. Sampai tak terasa hari berubah menjadi semakin petang, bulan bintang pun menyaksikan betapa bahagianya aku dan kamu di bawah langit yang sama. Kita duduk berdua sambil menikmati dinginnya udara dan suasana yang romantis, ditambah dengan rintikan hujan di daerah kota Atlas saat ini. Ingin rasanya aku bersamamu lebih lama. Malam semakin larut dan akhirnya kita putuskan untuk kembali ke rumah penginapan masing-masing. Malam ini aku tidak bisa tidur. Akhirnya aku berbincang-bincang denganmu di telepon.
Assalamu’alaikum” salammu saat di telepon
“Wa’alaikumsalam” jawabku singkat
“Besok aku akan mengajakmu jalan-jalan di kota Atlas ini setelah sarapan pagi, apakah kamu mau ?” tanyamu  penuh harapan
“Baiklah, besok aku akan menunggumu di taman biasa sebelah rumah saudaraku” jawabku senang
*******
Keesokan harinya, suasana pagi di kota Atlas begitu cerah, mentari bersinar dengan riang, seriang hatiku yang sudah tidak sabar menikmati liburan bersama orang yang selalu aku nanti selama ini. Aku segera bergegas menemuimu di taman yang sejak malam tadi sudah dijanjikan. Saat aku berjalan ke taman ternyata kamu sudah ada disana untuk menungguku. Aku bersamamu sepakat untuk jalan-jalan ke Lawang sewu, Klenteng Sam Poo Kong dan Little Netherland. Tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata betapa bahagianya aku saat liburan bersamamu. Aku salut dengan pengorbanan yang kamu lakukan  untuk menemuiku pada saat ini.
Pada malam terakhir, saat ini hujan mengguyur daerah kota Atlas, udara terasa begitu dingin. Kamu menyuruhku untuk segera tidur, karena besok pagi kita akan kembali ke kota masing-masing. Hari terakhir kita berlibur, aku mengantarkanmu kembali ke bandara. Kamu  berjanji padaku bahwa akan menemuiku di kala senja sama seperti saat pertama kita bertemu. Aku hanya mengangguk diam tanpa kata dan merelakan saat kepergianmu. Andai kamu tahu ku tak ingin kamu pergi meninggalkan ku sendiri bersama bayanganmu. Dan aku pun kembali ke kota asalku di mana aku dilahirkan.
*******
Setibanya di kota masing-masing, kamu meneleponku, memberitahu bahwa kamu sudah tiba di Kumai. Aku baru sadar kita berada di kota berbeda. Tapi kini, hanya kenangan yang hidup di jiwaku sungguh bukanlah kenangan yang pernah dimiliki anak manusia, siapa pun. Tidak pula seperti Habibie yang begitu cinta pada Ainun. Aku diam seribu kata, menerima semua kenyataan bahwa kamu tak lagi di sini. Bumi seakan menelanmu membiarkan ku sendiri tanpamu. Tak ada lagi canda atau pun tawa.
Tepatnya delapan bulan, kita berpisah antara jarak dan waktu, yah jarak Jawa- Kalimantan. Kelihatan di peta memang sangat dekat, tapi orang lain tak selalu mengerti arti ketulusan cinta yang sesungguhnya mengapa sampai detik ini aku masih bertahan.
Kau pasti tahu, ada suka dan duka, ada siang dan malam. Bertahun-tahun kita bersama, dan satu tahun sekali kita berjumpa di keramaian kota ini, saling memadu kasih, tanpa ada seorang pun yang mengusik. Kita tertawa, bahagia, tapi kini perpisahanlah yang membuat hati lara.
Aku duduk sendiri sambil ditemani burung-burung bernyanyi dan daun-daun menari seakan menghiburku di kala sore ini. Entah kenapa sore ini menjadi kelabu. Tadinya aku membayangkan hal yang indah-indah bersamamu kemarin, aku tadi melihat pelangi tapi sekarang awan pun berubah kelabu siap mengucurkan hujan derasnya. Tak beda dengan pelupuk mataku yang sudah tak mampu lagi menahan bendungan air mata yang sudah sedari tadi kutahan karena aku sedang berusaha tegar setelah membaca pesan singkatmu.
From +682785726272829
“Assalamu’alaikum, selamat sore kamu yang masih jadi pemilik hatiku. Sabar yah, memang kita berada dalam jarak yang jauh. Tapi jarak tak menghalangi cinta kita. Aku harap kamu baik-baik disana, jangan lupa berdoa untuk kita.
Aku tenggelam dalam indahnya rindu. Benakku merenung, rasa-rasanya tak ada habisnya jika kamu menghitung seberapa banyak aku merindumu.
“Aku sudah lupa bagaimana rasanya lelah menunggu. Tapi aku selalu ingat  tentang kamu yang berjanji akan datang kala senja yang selalu setia kutunggu.” kadang, kalimat sejenis itu terurai dari mulutku yang sepi.
Badai rindu tak lagi cukup untuk mewakili isi perasaanku. Seuntai nama yang hanya ku sebut dalam setiap doaku. Bayang wajah lelaki yang hanya aku yang sanggup menyimpan dengan rapi di dalam bingkai hatiku. Lengkung senyum yang hanya aku yang setia memeliharanya. Segenggam janji yang hanya aku yang mampu menggenggamnya dalam diam.
“Adakah rindu yang lebih menyakitkan dari rindu yang kurasakan?”
“Rindu! Ya, rindu! Betapa kejamnya rindu yang tak pernah mengerti apa yang aku rasakan”
Aku tahu tak semua orang merasakan seperti ini, seperti kamu dan aku. Tidak semua orang merasakan kita yang berkomunikasi melalui mata batin, saling bercengkerama dengan kerinduan. Perjalanan memang tak pernah bisa menjadi semulus yang diharapkan. Terjal, berbatu, menyakitkan, menyesakkan, bahkan hampir putus asa. Dengan semua perasaan yang bercampur dan keyakinan akan semua mimpi serta tujuan yang kita miliki, aku pegang teguh semua komitmen. Hari itu pasti akan datang, saat kita tak akan terpisahkan dan layak untuk dipersatukan.

PUISI



Sajak Istiqomah Steviani
Oase di Tanah Rindu

Hampa pada tanah merah
Yang meretas bumi
Menaring hidup tak senyawa
Usang tanpa autumn
Bagai petani di gurun pasir
Gemersik ranting kering
Pada oase rindu
Yang mengenang di dada

Purwokerto, 29 April 2015














Sajak Istiqomah Steviani
Bersuci

Dingin menemani kesunyian subuh
Percikmu sadarkanku
Setetes mutiara untuk bersuci
Kembalikanku untuk mendoakan pagi

Banyumas, 21 April 2015


















Sajak Istiqomah Steviani
Harapan

Ku lantunkan doa berbalut rindu
Kepada sajak
Yang mengingatkan
Akan harapan cahaya

Banyumas, 28 April 2015


















Sajak Istiqomah Steviani

Kau tuliskan beribu pesan dalam rindu
Bagai malam gelap ingin berjumpa matahari
Rindu yang menggumpal
Di dadamu adalah sepi


Banyumas, 28 April 2015