Dear
kamu, iya kamu si PHP
Apa
kabarmu ? apakah baik-baik saja ataupun sebaliknya ? masih ingatkah denganku ?
iya aku yang ditinggal pergi dengan diberi harapan, namun harapan itu sirna.
Berubah menjadi harapan palsu. Ketika kau meninggalkan pula kenangan, tanpa
pernah memberi keterangan, apalagi status “pacaran”.
Hai
kamu si pemberi harapan palsu !
Apakah
kamu sadar yang kamu lakukan cukup menyayat hati. Hati yang suci ini, haus akan
kasih sayang, merangkak menuntut sebuah status. Hanya sebuah status ! Cuma
itu. Jelaskan padaku apa maksud dari
semua ini ? kau memberi segenggam harapan, lantas pergi tanpa sebab
meninggalkan setoreh luka ?
Tidaklah
kau sadari sudah berapa banyak hatiku yang teriris, tercabik-cabik ?
Jika
memang sedari awal rasa ini tak pernah hadir, jika memang sedari awal rasa
sayang nan cinta itu tak pernah hinggap di lubuk hatimu yang paling dalam.
Mengapa masih saja kau beri secercah harap ?
Sekalipun
rasa itu memang jelas adanya, tak usah sungkan ungkapkan agar memperjelas keadaan,
bukan dengan menggantungkan sesuatu yang aku sebut ini perasaan. Ini hati,
bukan pakaian kotormu yang di gantung di balik pintu kamar. (baca sekali lagi)
Aku
tak pernah meminta apapun, hanya mendambakan sebuah kepastian setelah penantian
yang kita lakukan.
Bertahun-tahun
kita bersama, menjalani kisah suka duka canda tawa. Namun, setega inikah kau
denganku ? aku yang selalu setia menunggumu, menemanimu, mendengarkan keluh
kesahmu, memberikan perhatian dan pengertian untukmu. Apakah semua itu tak
cukup untukmu ?kurang apa lagi coba ?
Hari-hari
yang kulewati hampir sempurna, sempurna karena aku dan kamu bersama. Tapi belum
tepat sempurna, karena aku siapa nya kamu ?? status kita apa ?. sempat aku
tanyakan kepadamu, tapi kamu hanya menjawab “Jalani saja yang sekarang”, bukan
itu jawaban yang aku mau. Tapi sebuah kepastian, kepastian antara aku dan kamu.
Kita pernah duduk di bangku berhias cat
warna putih dengan memandang desiran ombak di sekitar pantai, merasakan bisikan
angin yang seolah memaksaku untuk menanyakan sebuah hubungan yang tanpa
kepastian ini disaksikan cerahnya langit pada siang itu. Kau berkata padaku,
akan selamanya bersamaku, sampai nanti. Perhatian yang kau berikan padaku juga
lebih dari cukup, sedikitlah untuk mengerti bagaimana perasaanku.
Setidaknya
aku bahagia, tuhan telah mengizinkan kita bersama, meskipun tanpa status.
Kesabaran ku yang selalu di uji justru membuat aku semakin kuat. Aku selalu
berdoa untuk selalu dapat bersamamu, kamu adalah semangatku.
Pada
dua tahun yang lalu, kita berjalan menelusuri dunia ini seakan dunia ini milik
berdua. Seseorang berlesung pipi dan bermata sipit, hanya itu yang aku ingat. Senyumanmu
menggodaku, kau selalu ingatkan aku dengan kewajiban. Sempat aku dan kamu
berada dalam kiblat yang sama. Dalam doaku dan hanya doaku aku selalu meminta
kepadanya agar kita selalu bersama sampai nanti, tapi apa daya semakin aku
rajin berdoa tuhan masih saja menguji kesabaranku dan kamu juga tidak pernah
tahu bagaimana perasaanku.
Aku yang
mulai menahan sakitnya cinta ini, berasa ini semua tak adil. Masih ku ingat,
ketika kamu datang ke rumah pada senja itu bersama rintikan hujan membasahi
depan halaman rumahku.
Kau mengetuk
pintu beserta salam, aku langsung keluar menemuimu. Aku sangat senang kau telah
datang, tapi senang ku hanya untuk sesaat. Tak lagi senang ketika kau
mengatakan sesuatu yang berisi kabar buruk bagiku, hatiku teriris dan
tercabik-cabik. Awan mendung semakin menggelegar seolah merasakan apa yang aku
rasakan pada saat itu. Rintikan gerimis senja itu berubah menjadi hujan deras
saat kau bercerita bahwa kau sekarang dengannya. Dengannya yang kau maksud
adalah sahabatku sendiri, sahabat semasa kecilku.
Apa kau sudah gila ?
Dia adalah
sahabat terbaikku sampai saat ini, aku tak kuasa membendung air mataku yang
dari tadi enggan menetes. Tapi aku berhasil membendung air mataku sampai dia
pergi.
Sampai
saat itu, aku hanya bisa melihatmu dari jauh dan saat bersamanya. Tak ada harapan lagi dan aku juga berpikir buat apa berharap dalam batin menangis. Ternyata aku
hanya tempat persinggahan ketika kau jenuh dan bosan.
Aku bersahabat
baik dengan perempuan yang kau pilih, tapi hati ini semakin sakit saat aku
berpura-pura terlalu lama. Sampai aku sudah bersama orang lain. Aku masih
merasakan sakitnya di khianati.
Orang
yang bersamaku kini, menjagaku dan menyayangiku seperti aku menyayanginya. Aku tidak
menyalahkan siapapun. Terimakasih kenangan yang telah kau beri untukku. Tuhan telah
memberikanku seseorang sebagai penggantimu. Dan aku percaya pilihan tuhan tidak
akan pernah salah. Aku doakan kau bahagia selalu dengannya. Cintailah dia dan
jangan sampai kau melukai hatinya sedikitpun. Cukup aku yang merasakannya.
Thanks..
Cerpen ini ditulis untuk mengikuti kompetisi #NulisFiksiPHP dari
@iindrapurwana, berhadiah 3 e-book "Rahasia Menulis
Kreatif" karya Raditya Dika.




