Minggu, 17 Mei 2015

Untuk Kekasihnya yang Pura-Pura Menyayangiku



Dear kamu, iya kamu si PHP

Apa kabarmu ? apakah baik-baik saja ataupun sebaliknya ? masih ingatkah denganku ? iya aku yang ditinggal pergi dengan diberi harapan, namun harapan itu sirna. Berubah menjadi harapan palsu. Ketika kau meninggalkan pula kenangan, tanpa pernah memberi keterangan, apalagi status “pacaran”.

Hai kamu si pemberi harapan palsu !

Apakah kamu sadar yang kamu lakukan cukup menyayat hati. Hati yang suci ini, haus akan kasih sayang, merangkak menuntut sebuah status. Hanya sebuah status ! Cuma itu.  Jelaskan padaku apa maksud dari semua ini ? kau memberi segenggam harapan, lantas pergi tanpa sebab meninggalkan setoreh luka ?

Tidaklah kau sadari sudah berapa banyak hatiku yang teriris, tercabik-cabik ?

Jika memang sedari awal rasa ini tak pernah hadir, jika memang sedari awal rasa sayang nan cinta itu tak pernah hinggap di lubuk hatimu yang paling dalam. Mengapa masih saja kau beri secercah harap ?

Sekalipun rasa itu memang jelas adanya, tak usah sungkan ungkapkan agar memperjelas keadaan, bukan dengan menggantungkan sesuatu yang aku sebut ini perasaan. Ini hati, bukan pakaian kotormu yang di gantung di balik pintu kamar. (baca sekali lagi)

Aku tak pernah meminta apapun, hanya mendambakan sebuah kepastian setelah penantian yang kita lakukan.

Bertahun-tahun kita bersama, menjalani kisah suka duka canda tawa. Namun, setega inikah kau denganku ? aku yang selalu setia menunggumu, menemanimu, mendengarkan keluh kesahmu, memberikan perhatian dan pengertian untukmu. Apakah semua itu tak cukup untukmu ?kurang apa lagi coba ?

Hari-hari yang kulewati hampir sempurna, sempurna karena aku dan kamu bersama. Tapi belum tepat sempurna, karena aku siapa nya kamu ?? status kita apa ?. sempat aku tanyakan kepadamu, tapi kamu hanya menjawab “Jalani saja yang sekarang”, bukan itu jawaban yang aku mau. Tapi sebuah kepastian, kepastian antara aku dan kamu. Kita  pernah duduk di bangku berhias cat warna putih dengan memandang desiran ombak di sekitar pantai, merasakan bisikan angin yang seolah memaksaku untuk menanyakan sebuah hubungan yang tanpa kepastian ini disaksikan cerahnya langit pada siang itu. Kau berkata padaku, akan selamanya bersamaku, sampai nanti. Perhatian yang kau berikan padaku juga lebih dari cukup, sedikitlah untuk mengerti bagaimana perasaanku.

Setidaknya aku bahagia, tuhan telah mengizinkan kita bersama, meskipun tanpa status. Kesabaran ku yang selalu di uji justru membuat aku semakin kuat. Aku selalu berdoa untuk selalu dapat bersamamu, kamu adalah semangatku.

Pada dua tahun yang lalu, kita berjalan menelusuri dunia ini seakan dunia ini milik berdua. Seseorang berlesung pipi dan bermata sipit, hanya itu yang aku ingat. Senyumanmu menggodaku, kau selalu ingatkan aku dengan kewajiban. Sempat aku dan kamu berada dalam kiblat yang sama. Dalam doaku dan hanya doaku aku selalu meminta kepadanya agar kita selalu bersama sampai nanti, tapi apa daya semakin aku rajin berdoa tuhan masih saja menguji kesabaranku dan kamu juga tidak pernah tahu bagaimana perasaanku.

Aku yang mulai menahan sakitnya cinta ini, berasa ini semua tak adil. Masih ku ingat, ketika kamu datang ke rumah pada senja itu bersama rintikan hujan membasahi depan halaman rumahku.

Kau mengetuk pintu beserta salam, aku langsung keluar menemuimu. Aku sangat senang kau telah datang, tapi senang ku hanya untuk sesaat. Tak lagi senang ketika kau mengatakan sesuatu yang berisi kabar buruk bagiku, hatiku teriris dan tercabik-cabik. Awan mendung semakin menggelegar seolah merasakan apa yang aku rasakan pada saat itu. Rintikan gerimis senja itu berubah menjadi hujan deras saat kau bercerita bahwa kau sekarang dengannya. Dengannya yang kau maksud adalah sahabatku sendiri, sahabat semasa kecilku.

Apa kau sudah gila ? 

Dia adalah sahabat terbaikku sampai saat ini, aku tak kuasa membendung air mataku yang dari tadi enggan menetes. Tapi aku berhasil membendung air mataku sampai dia pergi.
Sampai saat itu, aku hanya bisa melihatmu dari jauh dan saat bersamanya. Tak ada harapan lagi dan aku juga berpikir buat apa berharap dalam batin menangis. Ternyata aku hanya tempat persinggahan ketika kau jenuh dan bosan. 

Aku bersahabat baik dengan perempuan yang kau pilih, tapi hati ini semakin sakit saat aku berpura-pura terlalu lama. Sampai aku sudah bersama orang lain. Aku masih merasakan sakitnya di khianati.

Orang yang bersamaku kini, menjagaku dan menyayangiku seperti aku menyayanginya. Aku tidak menyalahkan siapapun. Terimakasih kenangan yang telah kau beri untukku. Tuhan telah memberikanku seseorang sebagai penggantimu. Dan aku percaya pilihan tuhan tidak akan pernah salah. Aku doakan kau bahagia selalu dengannya. Cintailah dia dan jangan sampai kau melukai hatinya sedikitpun. Cukup aku yang merasakannya.

Thanks..

Cerpen ini ditulis untuk mengikuti kompetisi #NulisFiksiPHP dari @iindrapurwana, berhadiah 3 e-book "Rahasia Menulis Kreatif" karya Raditya Dika. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar